Jejak Intelijen Asing di Indonesia
Intelijen asing memiliki banyak kepentingan di Indonesia. Mulai dari mengobok-obok pemerintahan, sampai mengobok-obok gerakan Islam.
Dimulai dari perseteruan antara Presiden Soekarno dan Kolonel Zulkifli Lubis, mantan Kepala Intelijen dan Wakil Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad). Zulkifli memang tidak pernah sejalan dengan Soekarno, dan merupakan salah satu yang menentang penunjukkan Jenderal A.H. Nasution sebagai Kasad pada 1955.
30 november 1957, ledakan beruntun itupun tak terhindarkan. Beberapa granat tangan dilempar ke arah Presiden Soekarno yang sedang berada di Perguruan Cikini, Menteng, Jakarta Pusat. Bung Karno selamat setelah di dorong untuk tiarap oleh salah satu pengawalnya.
Soekarno menuduh Zulkifli dan CIA berada di balik usaha pembunuhannya. Ia sangat yakin Zulkifi bekerjasama dengan CIA. Ditambah lagi ia mendapatkan bukti kongkret keterlibatan CIA dalam mendukung tokoh-tokoh Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) dan Perlawanan Rakyat Semesta (Permesta).
Allan Lawrence Pope, saat itu merupakan pilot muda yang menerbangkan pesawat Permesta dan menyerang Ambon. Pope, orang Amerika yang menerbangkan pesawat pembom B-25 yang meluluhlantakkan sebuah gereja dengan 700 jemaat di dalamnya. “Aku 99,9% yakin bahwa Pope agen CIA,” ujar Soekarno saat itu.
Tahun 1990, mengutip artikel Peter Dale Scot yang diterbitkan Majalah Lobster di Inggris, Lisa Pease menyebutkan, tahun 1964 seorang peneliti yang diberi akses membuka file di Deplu Pakistan menemukan surat salah seorang Dubes Pakistan di Eropa. Dalam surat tersebut, sang Dubes menyampaikan informasi dari seorang pejabat intel Belanda yang ditempatkan di NATO. Dikemukan dalam surat itu, dalam waktu tidak lama Indonesia akan beralih ke barat.
Tahun 1965, tersiar kabar mengenai telegram rahasia Cinpac 342 yang dikirim pada 21 Januari 1965 pukul 21.48. Salah satu bunyi telegram ini menyebutkan adanya pertemuan pejabat teras angkatan darat, yang membicarakan rencana darurat jika Presiden Soekarno mendadak meninggal dunia. Masih menurut bunyi telegram itu, menerangkan bahwa kelompok yang dipimpin Jenderal Soeharto melangkah lebih jauh dengan mendesak sesegera mungkin angkatan darat untuk mengambil alih kekuaaan tanpa menunggu Presiden Soekarno berhalangan.
Tahun 1998, CIA disinyalir banyak pihak terlibat dalam pergantian kekuasaan di Indonesia. Melalui IMF, mereka menekan Soeharto agar lembaga ekonomi berkiblat ke Amerika.
Pemilu 2004 pun disinyalir terdapat campur tangan CIA. Menggunakan LSM lokal, mereka menggiring opini publik untuk masyarakat untuk memilih calon presiden yang direstui oleh Amerika.
2006 ini, terjadi pengakuan dua orang intel yang mengaku agen dari CIA. Mereka adalah Asep Rahmatan Kusuma dan Andronikus Kaparang. Agen-agen ini mengaku diperintah untuk menyusupi Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) dan mencari dari mana sumber dana MMI selama ini.
Memang, tidak banyak kasus keterlibatan CIA yang terungkap di Indonesia. Tapi pasti masih banyak lagi yang tersembunyi dan menanti untuk diungkap. Namun jejak sejarah yang ditinggalkan CIA di setiap rezim, cukup menorehkan kenangan pahit dalam dunia perpolitikan kita, dan menyisakan sebuah pertanyaan besar. Mau apa mereka di Indonesia?
Dimulai dari perseteruan antara Presiden Soekarno dan Kolonel Zulkifli Lubis, mantan Kepala Intelijen dan Wakil Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad). Zulkifli memang tidak pernah sejalan dengan Soekarno, dan merupakan salah satu yang menentang penunjukkan Jenderal A.H. Nasution sebagai Kasad pada 1955.
30 november 1957, ledakan beruntun itupun tak terhindarkan. Beberapa granat tangan dilempar ke arah Presiden Soekarno yang sedang berada di Perguruan Cikini, Menteng, Jakarta Pusat. Bung Karno selamat setelah di dorong untuk tiarap oleh salah satu pengawalnya.
Soekarno menuduh Zulkifli dan CIA berada di balik usaha pembunuhannya. Ia sangat yakin Zulkifi bekerjasama dengan CIA. Ditambah lagi ia mendapatkan bukti kongkret keterlibatan CIA dalam mendukung tokoh-tokoh Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) dan Perlawanan Rakyat Semesta (Permesta).
Allan Lawrence Pope, saat itu merupakan pilot muda yang menerbangkan pesawat Permesta dan menyerang Ambon. Pope, orang Amerika yang menerbangkan pesawat pembom B-25 yang meluluhlantakkan sebuah gereja dengan 700 jemaat di dalamnya. “Aku 99,9% yakin bahwa Pope agen CIA,” ujar Soekarno saat itu.
Tahun 1990, mengutip artikel Peter Dale Scot yang diterbitkan Majalah Lobster di Inggris, Lisa Pease menyebutkan, tahun 1964 seorang peneliti yang diberi akses membuka file di Deplu Pakistan menemukan surat salah seorang Dubes Pakistan di Eropa. Dalam surat tersebut, sang Dubes menyampaikan informasi dari seorang pejabat intel Belanda yang ditempatkan di NATO. Dikemukan dalam surat itu, dalam waktu tidak lama Indonesia akan beralih ke barat.
Tahun 1965, tersiar kabar mengenai telegram rahasia Cinpac 342 yang dikirim pada 21 Januari 1965 pukul 21.48. Salah satu bunyi telegram ini menyebutkan adanya pertemuan pejabat teras angkatan darat, yang membicarakan rencana darurat jika Presiden Soekarno mendadak meninggal dunia. Masih menurut bunyi telegram itu, menerangkan bahwa kelompok yang dipimpin Jenderal Soeharto melangkah lebih jauh dengan mendesak sesegera mungkin angkatan darat untuk mengambil alih kekuaaan tanpa menunggu Presiden Soekarno berhalangan.
Tahun 1998, CIA disinyalir banyak pihak terlibat dalam pergantian kekuasaan di Indonesia. Melalui IMF, mereka menekan Soeharto agar lembaga ekonomi berkiblat ke Amerika.
Pemilu 2004 pun disinyalir terdapat campur tangan CIA. Menggunakan LSM lokal, mereka menggiring opini publik untuk masyarakat untuk memilih calon presiden yang direstui oleh Amerika.
2006 ini, terjadi pengakuan dua orang intel yang mengaku agen dari CIA. Mereka adalah Asep Rahmatan Kusuma dan Andronikus Kaparang. Agen-agen ini mengaku diperintah untuk menyusupi Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) dan mencari dari mana sumber dana MMI selama ini.
Memang, tidak banyak kasus keterlibatan CIA yang terungkap di Indonesia. Tapi pasti masih banyak lagi yang tersembunyi dan menanti untuk diungkap. Namun jejak sejarah yang ditinggalkan CIA di setiap rezim, cukup menorehkan kenangan pahit dalam dunia perpolitikan kita, dan menyisakan sebuah pertanyaan besar. Mau apa mereka di Indonesia?