Mengapa Bencana Mendera
Bencana yang kerap terjadi di Indonesia, bukan tanpa sebab. Masih dalam kategori peringatan Allah-kah, atau sudah berubah menjadi azab Allah?
Bencana tidak selalu identik dengan murka alam. Sebagaimana bencana memiliki tiga makna dalam al-Qur’an, yaitu sebagai musibah, ujian, dan azab. Maka perang, kerusakan iman dan kebobrokan moral secara massal, serta hal-hal yang membawa kepada kerusakan bisa dikategorikan sebagai bencana.
Betapa kehancuran itu bermula dari kerusakan, dan kerusakan itu bermula dari bencana-bencana baik yang kecil maupun yang besar. Jika suatu negeri kerap tertimpa bencana sehingga terjadi kerusakan disana-sini, maka apa sebenarnya yang sedang menimpa negeri tersebut? Apakah selangkah demi selangkah sedang menuju kehancuran?
Dalam surat Al-An’aam ayat 44, Allah telah menjelaskan, ”Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.”
Kemudian dalam Al-Isra’ ayat 16, lebih dipertegas lagi. Firman-Nya, “Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah), tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku keputusan Kami terhadap mereka, kamudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.”
Kedua ayat tersebut menjelaskan kehancuran suatu negeri itu terjadi karena dua hal. Pertama, manusia yang mulai melupakan penciptanya, yaitu Allah SWT. Ini berpangkal dari kerusakan iman dan akhlak. Apabila iman kepada Allah SWT sudah rusak, maka secara otomatis pula akan terjadi pembangkangan terhadap aturan-aturan Allah SWT. Sepeti meluasnya pezinahan dan perjudian. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Thabrani dan al-Hakim, Rasulullah saw bersabda, “Apabila perzinahan dan riba sudah melanda suatu negeri, maka penduduk negeri itu telah menghalalkan turunnya azab Allah atas mereka sendiri.”
Kedua, para pemimpin yang membuat kerusakan di muka bumi. Korupsi yang merajalela, kebijakan yang mendzolimi umat, pejabat yang membekingi perjudian dan tempat-tempat maksiat, pemimpin yang membenci syariat Allah, adalah segelintir dari banyak hal yang mampu membuat kerusakan di bumi.
Bencana Allah ini tidak hanya diturunkan melalui murka alam sepert tsunami di Aceh dan Pangandaran. Perang antar kaumpun termasuk bencana Allah. Misalnya, Kaum ‘Ad, yang dihancurkan oleh Allah SWT karena takabbur serta merasa paling berkuasa dan kuat. Mereka merasa tidak ada yang dapat mengalahkan mereka, sehingga mereka berkata: “Siapa yang lebih hebat kekuatannya dari kami?” (lihat QS. Fusshhilat:15).
Kemudian begitu juga dengan kehancuran yang menimpa Fir’aun, Namrudz, dan sebagainya. Pada masa Rasulullah saw hampir saja dikalahkan dalam Perang Hunain, karena kaum muslimin merasa congkak sebab jumlah mereka lebih banyak ketimbang kaum kuffar (lihat QS at-Taubah:25).
Kemudian jatuhnya Palestina ke tangan Zionis Yahudi juga boleh dijadikan pelajaran bagi kaum muslimin. Bagaimana suatu kaum yang minoritas dari segi jumlah dapat mengalahkan kaum muslim yang sangat besar. Pada 1917, ketika Deklarasi Balfour diumumkan, jumlah orang Yahudi di Palestina hanya 56,000 orang, sedangkan jumlah orang Palestina sekitar 644,000 orang. Jumlah ini semakin bertambah sampai dengan sekarang.
Sejarah juga mencatat bencana yang berupa azab lainnya. Yaitu saat peradaban Islam di Spanyol yang bertahan selama 800 tahun, dihancurkan oleh kaum nasrani, hingga akhirnya kaum muslimin dimusnahkan dari Spanyol. Hal ini dikarenakan perpecahan dan kecemburuan antara suku disana. Bahkan ada beberapa penguasa Muslim di Spanyol, seperti Ma’mun dari Toledo dan Dinasti Nasrid, mendapatkan kekuasaan dengan bantuan kekuatan nasrani untuk menghancurkan kekuatan Muslim lainnya.
Lalu, bagaimana dengan Indonesia? Ketua Komisi Fatwa MUI, Ma’ruf Amin berkomentar, “Secara pasti kita tidak tahu apakah bencana yang melanda Indonesia secara beruntun merupakan ujian atau azab. Hanya Allah yang tahu. Tapi yang jelas, kita telah melakukan kesalahan-kelasahan dan perlu melakukan introspeksi diri terhadap kesalahan-kesalahan kita di masa laampau. Kita anggap musibah ini sebagai bayaran dari kesalahan-kesalahan itu. Karena banyak perzinahan, perjudian, dan perbuatan yang melanggar aturan Allah yang menyerang negeri kita serta merusak lahiriyah dan maknawiyah kita.”
Asyumi Abdurrahman, penasehat PP Muhammadiyah menyatakan penyebab datangnya musibah Allah itu karena kurang tegaknya keadilan. “Keadilan tidak ditegakkan di tengah keluarga dan masyarakat. Padahal, menegakkan keadilan adalah perintah Allah. Karena substansi dari keadilan itu mendekatkan kepada takwa. I’dilu akrabu littaqwa, berlaku adillah karena keadilan itu dekat dengan takwa,” ujarnya.
Ustadz Ahzami Samiun Jazuli mengatakan, jangan sampai musibah yang menimpa Indonesia ini berubah menjadi azab. Menurutnya, jika musibah terjadi karena kemaksiatan suatu kaum, maka itu dapat berubah menjadi azab. Kemudian iapun merujuk ke surat Al-An’am ayat 6 yang diantaranya berbunyi, “..., Kemudian kami binasakan mereka karena dosa mereka sendiri, ...”
Menurut Ahzami, azab itu tidak berlaku untuk orang nasrani saja, orang Islampun juga dapat terkena azab. “Ketika mereka (orang Islam) berbuat jahat, maka Allah akan membalasnya juga. Seperti dalam surat Annisa ayat 123. Disitu ditegaskan, barangsiapa berbuat dosa pasti ia akan dibalas. Jadi penekanannya, jangan sampai musibah yang menimpa Indonesia ini berubah menjadi azab,” ujarnya.
Ketika kaum muslimin diuji Allah, maka yang pertama mereka paham betul ketentuan Allah. Kedua, ketentuan Allah untuk orang2 beriman itu pasti yang terbaik. Contoh, saat nabi kalah dalam perang Uhud. Itu bukan semata2 keburukan. Dari kekalahan ini kaum muslimin dapat mengambil pelajaran sepanjang masa, bahwa ketika umat Islam tidak taat kepada pemimpinnya (Rasul), ternyata mereka tergoda oleh dunia dan mereka kalah.
Sekarang, umat Islam juga tidak selamanya diuji dengan yang tidak menyenangkan seperti gempa dan tsunami. Tapi sebagian dari mereka diuji dengan harta, ketenaran, kekuasaan, dan sebagainya. “Kalau kita pandai-pandai menyikapi, ini semua dapat menjadi kebaikan bagi kita. Seharusnya musibah-musibah ini juga bisa dijadikan cara untuk menimbulkan optimisme umat Islam. Itupun baru bisa terwujud kalau kita benar dalam menyikapi sebuah musibah,” terang Ahzami.
Sungguh bencana-bencana yang terjadi di muka bumi ini adalah ujian bagi para penghuninya untuk mengetahui siapa yang lebih baik amalnya (QS. 67:2). Semua kerusakan-kerusakan itu tidak lepas dari ulah tangan-tangan manusia yang berhati kotor, yang kekuasaan menjadi tujuan. Akidah yang mengikis juga turut andil dalam peranan. Untuk itu, mari kita beristighfar bersama dan selalu memperbaharui taubat kita. Agar kita selalu dijauhkan dari bencana dan marabahaya.
Bencana tidak selalu identik dengan murka alam. Sebagaimana bencana memiliki tiga makna dalam al-Qur’an, yaitu sebagai musibah, ujian, dan azab. Maka perang, kerusakan iman dan kebobrokan moral secara massal, serta hal-hal yang membawa kepada kerusakan bisa dikategorikan sebagai bencana.
Betapa kehancuran itu bermula dari kerusakan, dan kerusakan itu bermula dari bencana-bencana baik yang kecil maupun yang besar. Jika suatu negeri kerap tertimpa bencana sehingga terjadi kerusakan disana-sini, maka apa sebenarnya yang sedang menimpa negeri tersebut? Apakah selangkah demi selangkah sedang menuju kehancuran?
Dalam surat Al-An’aam ayat 44, Allah telah menjelaskan, ”Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.”
Kemudian dalam Al-Isra’ ayat 16, lebih dipertegas lagi. Firman-Nya, “Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah), tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku keputusan Kami terhadap mereka, kamudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.”
Kedua ayat tersebut menjelaskan kehancuran suatu negeri itu terjadi karena dua hal. Pertama, manusia yang mulai melupakan penciptanya, yaitu Allah SWT. Ini berpangkal dari kerusakan iman dan akhlak. Apabila iman kepada Allah SWT sudah rusak, maka secara otomatis pula akan terjadi pembangkangan terhadap aturan-aturan Allah SWT. Sepeti meluasnya pezinahan dan perjudian. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Thabrani dan al-Hakim, Rasulullah saw bersabda, “Apabila perzinahan dan riba sudah melanda suatu negeri, maka penduduk negeri itu telah menghalalkan turunnya azab Allah atas mereka sendiri.”
Kedua, para pemimpin yang membuat kerusakan di muka bumi. Korupsi yang merajalela, kebijakan yang mendzolimi umat, pejabat yang membekingi perjudian dan tempat-tempat maksiat, pemimpin yang membenci syariat Allah, adalah segelintir dari banyak hal yang mampu membuat kerusakan di bumi.
Bencana Allah ini tidak hanya diturunkan melalui murka alam sepert tsunami di Aceh dan Pangandaran. Perang antar kaumpun termasuk bencana Allah. Misalnya, Kaum ‘Ad, yang dihancurkan oleh Allah SWT karena takabbur serta merasa paling berkuasa dan kuat. Mereka merasa tidak ada yang dapat mengalahkan mereka, sehingga mereka berkata: “Siapa yang lebih hebat kekuatannya dari kami?” (lihat QS. Fusshhilat:15).
Kemudian begitu juga dengan kehancuran yang menimpa Fir’aun, Namrudz, dan sebagainya. Pada masa Rasulullah saw hampir saja dikalahkan dalam Perang Hunain, karena kaum muslimin merasa congkak sebab jumlah mereka lebih banyak ketimbang kaum kuffar (lihat QS at-Taubah:25).
Kemudian jatuhnya Palestina ke tangan Zionis Yahudi juga boleh dijadikan pelajaran bagi kaum muslimin. Bagaimana suatu kaum yang minoritas dari segi jumlah dapat mengalahkan kaum muslim yang sangat besar. Pada 1917, ketika Deklarasi Balfour diumumkan, jumlah orang Yahudi di Palestina hanya 56,000 orang, sedangkan jumlah orang Palestina sekitar 644,000 orang. Jumlah ini semakin bertambah sampai dengan sekarang.
Sejarah juga mencatat bencana yang berupa azab lainnya. Yaitu saat peradaban Islam di Spanyol yang bertahan selama 800 tahun, dihancurkan oleh kaum nasrani, hingga akhirnya kaum muslimin dimusnahkan dari Spanyol. Hal ini dikarenakan perpecahan dan kecemburuan antara suku disana. Bahkan ada beberapa penguasa Muslim di Spanyol, seperti Ma’mun dari Toledo dan Dinasti Nasrid, mendapatkan kekuasaan dengan bantuan kekuatan nasrani untuk menghancurkan kekuatan Muslim lainnya.
Lalu, bagaimana dengan Indonesia? Ketua Komisi Fatwa MUI, Ma’ruf Amin berkomentar, “Secara pasti kita tidak tahu apakah bencana yang melanda Indonesia secara beruntun merupakan ujian atau azab. Hanya Allah yang tahu. Tapi yang jelas, kita telah melakukan kesalahan-kelasahan dan perlu melakukan introspeksi diri terhadap kesalahan-kesalahan kita di masa laampau. Kita anggap musibah ini sebagai bayaran dari kesalahan-kesalahan itu. Karena banyak perzinahan, perjudian, dan perbuatan yang melanggar aturan Allah yang menyerang negeri kita serta merusak lahiriyah dan maknawiyah kita.”
Asyumi Abdurrahman, penasehat PP Muhammadiyah menyatakan penyebab datangnya musibah Allah itu karena kurang tegaknya keadilan. “Keadilan tidak ditegakkan di tengah keluarga dan masyarakat. Padahal, menegakkan keadilan adalah perintah Allah. Karena substansi dari keadilan itu mendekatkan kepada takwa. I’dilu akrabu littaqwa, berlaku adillah karena keadilan itu dekat dengan takwa,” ujarnya.
Ustadz Ahzami Samiun Jazuli mengatakan, jangan sampai musibah yang menimpa Indonesia ini berubah menjadi azab. Menurutnya, jika musibah terjadi karena kemaksiatan suatu kaum, maka itu dapat berubah menjadi azab. Kemudian iapun merujuk ke surat Al-An’am ayat 6 yang diantaranya berbunyi, “..., Kemudian kami binasakan mereka karena dosa mereka sendiri, ...”
Menurut Ahzami, azab itu tidak berlaku untuk orang nasrani saja, orang Islampun juga dapat terkena azab. “Ketika mereka (orang Islam) berbuat jahat, maka Allah akan membalasnya juga. Seperti dalam surat Annisa ayat 123. Disitu ditegaskan, barangsiapa berbuat dosa pasti ia akan dibalas. Jadi penekanannya, jangan sampai musibah yang menimpa Indonesia ini berubah menjadi azab,” ujarnya.
Ketika kaum muslimin diuji Allah, maka yang pertama mereka paham betul ketentuan Allah. Kedua, ketentuan Allah untuk orang2 beriman itu pasti yang terbaik. Contoh, saat nabi kalah dalam perang Uhud. Itu bukan semata2 keburukan. Dari kekalahan ini kaum muslimin dapat mengambil pelajaran sepanjang masa, bahwa ketika umat Islam tidak taat kepada pemimpinnya (Rasul), ternyata mereka tergoda oleh dunia dan mereka kalah.
Sekarang, umat Islam juga tidak selamanya diuji dengan yang tidak menyenangkan seperti gempa dan tsunami. Tapi sebagian dari mereka diuji dengan harta, ketenaran, kekuasaan, dan sebagainya. “Kalau kita pandai-pandai menyikapi, ini semua dapat menjadi kebaikan bagi kita. Seharusnya musibah-musibah ini juga bisa dijadikan cara untuk menimbulkan optimisme umat Islam. Itupun baru bisa terwujud kalau kita benar dalam menyikapi sebuah musibah,” terang Ahzami.
Sungguh bencana-bencana yang terjadi di muka bumi ini adalah ujian bagi para penghuninya untuk mengetahui siapa yang lebih baik amalnya (QS. 67:2). Semua kerusakan-kerusakan itu tidak lepas dari ulah tangan-tangan manusia yang berhati kotor, yang kekuasaan menjadi tujuan. Akidah yang mengikis juga turut andil dalam peranan. Untuk itu, mari kita beristighfar bersama dan selalu memperbaharui taubat kita. Agar kita selalu dijauhkan dari bencana dan marabahaya.